Category Archives: Teknologi

Nokia Care

Ada pula layanan after sales yang juga ditawarkan oleh Nokia. Brand sudah eksis lebih dahulu di Indonesia ini memberikan dua jenis layanan, yaitu Nokia Care Centre dan Nokia Care Collection Point. Di Nokia Care Centre, konsumen dapat datang untuk layanan dan perbaikan, konsultasi mengenai fitur ponsel dan penggunaan termasuk pengaktifan layanan Nokia seperti Ovi, N-GAGE, Maps serta Musik. Sedangkan untuk Nokia Care Collection Point adalah layanan service centre Nokia yang terletak di kota-kota kecil, yang belum tersedia layanan Nokia Care Centre.

Nokia juga menyediakan Nokia Care Protect. Layanan ini memberikan penawaran perbaikan dan dukungan sampai 12 bulan setelahnya. Disamping itu, layanan ini juga memastikan kenyamanan untuk para konsumen sehingga perangkatnya tetap ada dalam masa garansi tanpa adanya biaya tambahan. Nokia juga mengembangkan layanan inovatif untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Salah satunya ialah layanan care delivery service, dalam kondisi konsumen bisa meminta ponsel mereka untuk bisa dikirim ke rumah setelah selesai diperbaiki.

Service Centre Resmi, Berbenah

Di saat semua brand smartphone sedang marak mengusung layanan after salesnya, apakah Anda yakin masih mau lari ke tempat service tidak resmi? Jika kita tengok ke beberapa tahun ke belakang, memang banyak sekali keluhan yang dirasakan oleh konsumen saat datang ke service centre, tidak terkecuali brand apapun. Entah mengenai layanan customer service yang buruk, waktu perbaikan yang lama, atau tidak tersedianya sparepart yang dibutuhkan.

Baca juga : Net89

Namun, melihat pertumbuhan penjualan smartphone yang semakin tinggi, kini para vendor pun mulai lebih memperhatikan layanan after sales untuk konsumennya. Barangkali, ini mulai digalakkan supaya mereka tidak ditinggal oleh konsumen setianya. Terbukti dari survei yang telah lakukan melalui kuesioner singkat, sudah jarang muncul keluhan dari pengguna smartphone terhadap layanan service centre dari brand miliknya.

Secara garis besar konsumen sudah merasa puas dengan layanan yang diberikan, walaupun masih saja ada yang merasakan ketidaknyamanan saat datang ke service centre resmi. Seperti yang diutarakan oleh Agnes Octaviani, pemilik tablet Samsung yang mengalami kerusakan baterai, bahwa customer service yang melayani sangat membantu dengan memberikan saran dan menjawab pertanyaan secukupnya. Dirinya juga mengaku jika malah merasa takut dan kurang percaya dengan layanan dari service tidak resmi.

Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa masih saja banyak konsumen yang tetap memilih jasa service tidak resmi dengan alasan biaya yang murah atau layanannya yang lebih cepat. Mau pilih service resmi atau tidak resmi, itu semua tergantung Anda. Tapi di luar hal itu, tetap lebih baik jika setiap brand juga mengunggulkan layanan after sales-nya supaya tidak hanya dari segi produk saja, konsumen juga merasakan layanan service yang juga maksimal.

Testimoni konsumen menyoal service centre

Ketika polling di Fans page Facebook bertema layanan after sales dibuka, mayoritas kepuasan menyangkut pelayanan service centre pun mencuat. Beragam pengalaman mengenakkan dialami oleh member. Tak hanya satu, melainkan puluhan member yang tersenyum oleh layanan service centre. Namun, tak sedikit pula yang kecewa. Eiit, jangan salah tafsir dulu. Tak ada gading yang tak retak, semua produk pasti memiliki nilai minus. Jika keluhan di atas merupakan simbol retaknya gading. Kini vendor, mencoba memperbaiki dengan segenap hati demi loyalitas pelanggan. Berikut testimoni plus minus menyangkut service centre.

 

Router Pribadi Serba Guna

Sepintas bisa jadi Anda mengiranya sebagai adaptor listrik. Tak sepenuhnya salah, sebab memang ada port USB di bodinya dan bisa dimanfaatkan untuk charger. Tapi apakah sebetulnya perangkat ini?

Baca juga : harga iphone

Desain

Berdimensi sekepalan tangan, router WiFi ini sangat ringan. Asumsinya, perangkat ini pasti praktis untuk dibawa ke manamana. Tinggal colok ke stop kontak, selanjutnya gunakan fungsi yang diinginkan. Oya, dalam paket disediakan dua kepala colokan, dua kaki dan tiga kaki. Jadi kalau bepergian ke luar negeri, kita bisa sesuaikan dengan model stop kontak di sana. Selain dari stop kontak, daya listrik juga bisa diperoleh dari laptop. Tinggal colokkan kabel data -disediakan dalam paket- ke port micro USB di router dan ke port USB di laptop.

Ada satu port LAN/Internet, satu port LAN, dan satu port USB pada bodi router. Port LAN/Internet berguna untuk mengubah koneksi internet kabel, misalnya dari LAN, menjadi hotspot WiFi. Port LAN untuk mengoneksi perangkat berkabel via WiFi. Port USB bisa dipakai untuk men-charge perangkat lain, misalnya smartphone atau tablet. Selain itu bisa juga dapat digunakan untuk mengakses USB storage atau printer wireless. Di sisi lain bodi, ada switch untuk pindah dari moda internet via koneksi wireless ke moda internet via koneksi wired. Lalu ada indikator yang menandai power, internet, WiFi, dan atau USB yang sedang aktif. Dan antena penangkap dan penguat sinyal.

Kinerja

Yes, perangkat ini utamanya memang sebagai router WiFi. Jika punya jaringan kabel, misalnya LAN, tinggal colokkan kabel LAN ke port-nya. Netgear Trek langsung berfungsi sebagai access point. Misalkan sedang berada di kamar hotel, yang biasanya hanya sediakan satu jalur kabel LAN untuk akses internet berbayarnya. Seringnya kita terpaksa menyetel profi l baru untuk tiap perangkat tiap kali mengoneksinya. Kalau pakai Trek, tinggal colok saja kabelnya ke Trek, satu setel profi l di tiap perangkat, dan kita bisa langsung berbagi akses internetnya ke laptop, tablet, dan smartphone lewat WiFi. Misalkan kita lagi nongkrong di food court yang punya hotspot WiFi publik. Di tempat seperti itu biasanya sinyalnya lemah. Nah, kita bisa pakai Trek untuk menggenjot sinyalnya sampai maksimal. Netgear mengklaim mampu mencapai kecepatan N300. Atau ingin bertransaksi e-banking? Di hotspot WiFi umum kan tak aman. Tapi dengan Trek kita bisa bikin jaringan ber-fi rewall pribadi. Dan seperti yang singgung di awal, kita bisa pakai Trek untuk men-charge smartphone atau tablet. Sayangnya, Trek belum dukung modem USB seluler. Pun tak bisa difungsikan jadi DLNA media server.

Daya Saing

Makin mungil perangkat, makin gampang dibawa. Makin banyak fungsi dalam satu perangkat, makin sedikit jumlah perangkat yang perlu dibawa. Dan biasanya total biayanya beli satu perangkat relatif lebih murah ketimbang beli seabrek perangkat. Inilah yang selalu dicari atas nama kepraktisan oleh mereka yang sering bepergian. Cukup banyak perangkat “multi-fungsi” yang dijual di pasar. Namun kombinasi fungsi yang ditawarkannya beda-beda. Sejauh ini mendapati perangkat yang mengombinasi router dan charger, router dan extender, sampai router dan cloud service. Tapi belum ketemu fungsi seperti yang ditawarkan Netgear Trek.

Semisal untuk menjamu kolega, terlalu berlebihan. Padahal tak semestinya seperti itu. Sewajarnya saja.

Contohnya? Misal pemberian kado. Dulu pernah mau memberikan kado senilai Rp 20 juta. Akhirnya saya cut. Saya kasih pilihan (bentuk kadonya), hingga nilainya tak lebih dari Rp 800.000. Terkadang pemberian istimewa itu tak harus selalu diukur dengan harga. Tapi ada beberapa benda yang sebenarnya tak bisa dinilai dengan uang.

Benda­benda seperti ini, saya pikir nilainya jauh lebih tinggi dari sekadar rupiah. Itu yang saya coba tanamkan. Yang terpenting makna dari pemberian kado tersebut. Bukan nilai banderolnya. Mengapa Anda bergabung di perusahaan ini? Salah satu alasannya, karena bos saya ini. Dulu saya bekerja di perusahaan minyak. Sekarang di dunia entertain seperti ini. Lebih enjoy di sini. Bosnya enak di ajak ngobrol. Kayak baut dan mur, ha … ha .. ha

Layanan CDMA akan Berubah jadi E-GSM Bagian 2

Smartfren pun, yang rugi tahun 2013 sampai Rp 2,53 triliun, naik dari Rp 1,56 triliun tahun 2012, tidak mungkin dibiarkan dan mereka akan mendapat insentif untuk pindah. Dua operator, StarOne dan Flexi sudah jelas akan berubah teknologi ke E­GSM, SmartFren akan pindah ke BWA (broadband wireless access – akses nirkabel pita lebar) di 2,3 GHz. Bagaimana dengan Esia? Bakrie masih yakin akan tetap menjalankan bisnisnya, walau tidak lagi mengandalkan pemasukan dari suara dan SMS, tetapi dari kerja sama layanan Path dan OTT (over the top) lokal.

Padahal, OTT saat ini, ketika be lum ada regulasi yang memaksa pemilik konten OTT memberi kontribusi kepada operator, Esia atau operator lain tidak mendapat bagian apa­apa. Kita tunggu saja, apakah Esia akan melaju ke sukses, sesukses pemiliknya kalau terpilih jadi presiden atau wakol presiden.

Layanan CDMA akan Berubah jadi E-GSM

Teknorus.com – Ketika teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) yang pernah dianggap lebih ung gul, jernih dan investasinya lebih murah dari GSM (global system for mobile communicaton) sudah mentok dan tidak dikembangkan lagi, masa depan semua opera tornya menjadi sangat suram. Di Indonesia ada empat operator CDMA 850 MHz yang beroperasi, yaitu TelkomFlexi, Esia (Bakrie Telecom), Fren (Mobile8) dan StarOne (Indosat). Masing­masing hanya punya 5 MHz, lebar spektum yang sulit untuk dikembangkan sehingga tidak punya daya saing di industri.

Baca juga : WA WEB

Apalagi jika harus bersaing de ngan GSM yang sudah menuju ke generasi keempat (4G) atau LTE (Long Term Evolution). Pernah disarankan agar ke empat operator menyatu (merger), namun arogansi lah yang akhirnya membatalkannya, dengan hasil keempatnya makin terpuruk. Pe langgan Esia, Flexi dan SmartFren tak lebih dari 11­12 juta, hampir tak pernah naik kecuali menyusut, sehingga tidak lagi ekonomis. PT Telkom pun menghentikan layanan Flexi dan menggunakan frekuensi 850 MHz­nya untuk diubah menjadi layanan E­GSM (extended GSM), yang akan disatukan ke anak perusahaannya, Telkomsel.

Mereka sudah melaku kan uji coba di Papua tetapi kemu dian akan terkendala regulasi, jika 850 MHz milik Telkom diserahkan ke Telkomsel yang beda entitas bisnis, karena belum ada aturan nya. Kendala lain, frekuensi Flexi tidak berdampingan frekuensi 900 MHz­nya Telkomsel karena terhalang Mobile­8. Tidak apa, sebab Mobile­8 segera pindah ke 2,3 GHz. Beda dengan PT Indosat, StarOne adalah miliknya, walau hanya punya 120.000 pelanggan tetapi kontribusi bulanan tiap pelanggannya ke pendapatan anak usaha Ooredoo itu lebih besar dari pelanggan GSM.

Tidak ada kendala regulasi, tidak pula ken dala posisi spektrumnya, karena 850 MHz StarOne berdampingan langsung dengan GSM Indosat. Mereka sudah minta izin pemerin tah, tetapi belum mendapat respons memadai. Pemerintah masih dipusing kan Esia yang “tidak punya kawan” sebab tidak mungkin dibiarkan mati, meski operator itu tahun 2013 menderita rugi bersih sampai Rp 2,65 triliun, turun dari Rp 3,14 triliun tahun sebelumnya.